Kaligrafi
GRC/feature

Arsitektur

Arsitektur/module

GRC Ornamen

GRC/column

Breaking

adv/http://www.mogflat.blogspot.com|https://4.bp.blogspot.com/-DZ_Cwatt2bg/WNHXQEGTzFI/AAAAAAAAB-E/pPAl0mITF6UZM1Xh-6FfO8y5YUkIgCbAgCLcB/s1600/adv-3.jpg

Info

Info/style
adv/http://www.mogflat.blogspot.com|https://4.bp.blogspot.com/-DZ_Cwatt2bg/WNHXQEGTzFI/AAAAAAAAB-E/pPAl0mITF6UZM1Xh-6FfO8y5YUkIgCbAgCLcB/s1600/adv-3.jpg

Lomba dan Sayembara

Lomba dan Sayembara/style

Lukisan Kaligrafi

Lukisan Kaligrafi/carousel

Videos

Video/box

Recent Posts

Catatan Kenangan : Bila MTQ Nasional Di Sumatera Barat Lagi

Catatan Kenangan : Bila MTQ Nasional Di Sumatera Barat Lagi

Bila MTQ Nasional (XXVIII/2020) berlangsung di Sumatera Barat lagi... Bila umur panjang dan ditugaskan lagi... Bagi saya, ini akan jadi kenangan. Sebab, 35 tahun lalu (1983) di provinsi inilah saya untuk pertama kali jadi juri Musabaqah Khat Al-Qur'an (MKQ) yang waktu itu baru berupa sayembara. Agak grogi juga sih, waktu itu. Bagaimana tidak? Saya tidak punya pengalaman. Satu kali pun belum pernah jadi juri. Tiba-tiba harus duduk bersama dg para kiai dan hamalatul Qur'an. Mereka semua senior, banyak mantan juara tilawah. Sedangkan saya yg baru berumur 26 tahun hanya pernah mengikuti MKQ pertama di MTQ Nasional XII tahun1981 di Banda Aceh sebelumnya, saat masih kuliah semester VI. Itu pun langsung gagal jadi juara. Ya Allah, 2 tahun kemudian malah diangkat jadi jurinya di Tingkat Nasional di Padang.


Saya diajak oleh 2 guru saya Prof. H. M. Salim Fachry (penulis Al-Qur'an Pusaka Bung Karno) dan KH. M. Abd. Razaq Muhili (khattat perintis Indonesia, ayahnya KH. M. Faiz Abd. Razaq). Di pesawat, saya sampaikan keinginan membuat semacam sekolah  kaligrafi. Belum terbayangkan apa namanya. Sampai LEMKA lahir 2 tahun kemudian, 1985, di IAIN Jakarta dan Pesantren Kaligrafi Alqur'an Lemka di Sukabumi 13 tahun sesudahnya, 1998. 


Ustaz Salim dan Ustaz Razaq adalah Dewan Hakim pada MKQ Pertama di Banda Aceh. Dalam MTQ Nasional XIII/1983 di Padang, DH MKQnya adalah Prof. H.M. Salim Fachry, KH. M. Abd. Razaq Muhili, Drs. Didin Sirojuddin AR, H. Chazanatul Israr (C. Israr, penulis buku Sejarah Kesenian Islam), dan Drs. H.  Bakhtiar Rajab, kedua terakhir adalah dosen di IAIN Imam Bonjol, Padang. Paniteranya adalah anak muda energik, Ir. Bus Harmaedi. Sedangkan pemenang sayembaranya:  Darami Yunus (Batusangkar, adik seayah Prof. Dr. H. Mahmud Yunus), Wasi Abd. Razaq  (Bandung, adiknya KHM Faiz Abd. Razaq), dan Imron Isma'iel (Cirebon). 


Kecuali di MTQ Nasional XIV tahun 1985 di Pontianak dimana khat hanya didemonstrasikan di muka umum dan tidak dilombakan, saya terus jadi juri berturut-turut  sampai MTQ Nasional XXVII tahun 2018 di Medan.


Saya tidak puas dengan sayembara individual yang hanya menulis khat Naskhi dan Tsulus hitam putih.  Lalu bergerak cepat  turut merumuskan pengembangan lomba secara langsung yang diikuti wakil-wakil kafilah Provinsi menjadi Golongan Penulisan Buku (sekarang Golongan Naskah), Golongan Hiasan Mushaf, dan Golongan Dekorasi.  Masing-masing diikuti seorang peserta tanpa membedakan kelas putra dan putri, yg  mulai diberlakukan pada MTQ Nasional XV tahun 1988 di Bandar Lampung dan MTQ Nasional XVI tahun 1991 di Yogyakarta. 


Penampilan tiga golongan lomba ini dirasakan semakin mendorong minat para khattat untuk berpartisipasi dalam MKQ. Pada waktu bersamaan, geliat seni penulisan mushaf modern Indonesia mulai bangkit terutama sejak kehadiran Mushaf Istiqlal (1991-1995) mengiringi kegiatan dekorasi mesjid yg semakin marak, yg kedua-duanya dikerjakan oleh para peserta musabaqah.


Sungguh sangat menarik. Tidak semua usulan dengan mudah dikabulkan. Kelas putri yg berkali-kali diusulkan baru diterima di MTQ Nas XVII tahun 1994 di Pekanbaru, Riau. Berawal dari rasa kasihan melihat peserta putri selalu tersisih oleh putra sehingga kerap kalah sebelum tarung. 


Terasa "ngenes" juga melihat para pelukis dari kampus-kampus seni rupa tidak mampu "menerobos" MKQ yg dibarikade dengan kuatnya oleh para santri yg lebih menguasai kaligrafi murni tradisional. "Saya pengin ikut tapi ga sanggup dah," seperti dikeluhkan beberapa pelukis. Kesedihan ini  menginspirasi saya untuk memperjuangkan Golongan Kaligrafi Kontemporer masuk MTQ (walaupun sudah goal masuk POSPENAS terlebih dahulu). Terasa janggal. Saya pun  cemas:  mungkinkah "gaya aneh bin nyeleneh" ini bisa disandingkan dengan 3 golongan MKQ yang kalem? Ternyata para penentangnya juga banyak. Tidak semua kalangan, bahkan kalangan Dewan Hakim, setuju. Namun,  akhirnya, Golongan Kaligrafi Kontemporer diterima dan masuk MTQ Nasional XXV tahun 2014 di Batam, Kepulauan Riau, setelah melewati 12 tahun perjalanan yg berliku-liku.


Dalam rentang waktu tersebut, telah terjadi perubahan dan  kemajuan kualitas estetis karya peserta seiring modivikasi-modivikasi pedoman musabaqah yg tanpa henti dilakukan. Partisipasi lomba-lomba kaligrafi non-MTQ dan kemunculan lomba-lomba kaligrafi berskala Internasional turut menggembleng peserta dan meng up-grade kualitas karya MKQ. Tapi saya masih penasaran belum berhasil memasukkan Kaligrafi Digital melengkapi 4 golongan MKQ yg sudah ada. Ini sangat penting untuk mengikuti perkembangan  zaman. Mudah-mudahan bisa diperjuangkan dan ketemu di MTQ Nasional XXVIII tahun 2020 di Padang Sumatera barat.

Insyaa Allah


(DidinSirojuddinAR•Lemka)


GAMBAR:

Hakim-hakim MKQ-MTQ Nasional XIII tahun 1983: 

  • Prof. H.M. Salim Fachry, 
  • KH. M. Abd. Razaq Muhili, 
  • C. Israr, Drs. H. Bakhtiar Rajab,
  • Drs. Didin Sirojuddin AR juara I
  • Darami Yunus (dikepung kaligrafi karyanya).

Bila MTQ Nasional (XXVIII/2020) berlangsung di Sumatera Barat lagi... Bila umur panjang dan ditugaskan lagi... Bagi saya, ini akan jadi kenangan. Sebab, 35 tahun lalu (1983) di provinsi inilah saya untuk pertama kali jadi juri Musabaqah Khat Al-Qur'an (MKQ) yang waktu itu baru berupa sayembara. Agak grogi juga sih, waktu itu. Bagaimana tidak? Saya tidak punya pengalaman. Satu kali pun belum pernah jadi juri. Tiba-tiba harus duduk bersama dg para kiai dan hamalatul Qur'an. Mereka semua senior, banyak mantan juara tilawah. Sedangkan saya yg baru berumur 26 tahun hanya pernah mengikuti MKQ pertama di MTQ Nasional XII tahun1981 di Banda Aceh sebelumnya, saat masih kuliah semester VI. Itu pun langsung gagal jadi juara. Ya Allah, 2 tahun kemudian malah diangkat jadi jurinya di Tingkat Nasional di Padang.


Saya diajak oleh 2 guru saya Prof. H. M. Salim Fachry (penulis Al-Qur'an Pusaka Bung Karno) dan KH. M. Abd. Razaq Muhili (khattat perintis Indonesia, ayahnya KH. M. Faiz Abd. Razaq). Di pesawat, saya sampaikan keinginan membuat semacam sekolah  kaligrafi. Belum terbayangkan apa namanya. Sampai LEMKA lahir 2 tahun kemudian, 1985, di IAIN Jakarta dan Pesantren Kaligrafi Alqur'an Lemka di Sukabumi 13 tahun sesudahnya, 1998. 


Ustaz Salim dan Ustaz Razaq adalah Dewan Hakim pada MKQ Pertama di Banda Aceh. Dalam MTQ Nasional XIII/1983 di Padang, DH MKQnya adalah Prof. H.M. Salim Fachry, KH. M. Abd. Razaq Muhili, Drs. Didin Sirojuddin AR, H. Chazanatul Israr (C. Israr, penulis buku Sejarah Kesenian Islam), dan Drs. H.  Bakhtiar Rajab, kedua terakhir adalah dosen di IAIN Imam Bonjol, Padang. Paniteranya adalah anak muda energik, Ir. Bus Harmaedi. Sedangkan pemenang sayembaranya:  Darami Yunus (Batusangkar, adik seayah Prof. Dr. H. Mahmud Yunus), Wasi Abd. Razaq  (Bandung, adiknya KHM Faiz Abd. Razaq), dan Imron Isma'iel (Cirebon). 


Kecuali di MTQ Nasional XIV tahun 1985 di Pontianak dimana khat hanya didemonstrasikan di muka umum dan tidak dilombakan, saya terus jadi juri berturut-turut  sampai MTQ Nasional XXVII tahun 2018 di Medan.


Saya tidak puas dengan sayembara individual yang hanya menulis khat Naskhi dan Tsulus hitam putih.  Lalu bergerak cepat  turut merumuskan pengembangan lomba secara langsung yang diikuti wakil-wakil kafilah Provinsi menjadi Golongan Penulisan Buku (sekarang Golongan Naskah), Golongan Hiasan Mushaf, dan Golongan Dekorasi.  Masing-masing diikuti seorang peserta tanpa membedakan kelas putra dan putri, yg  mulai diberlakukan pada MTQ Nasional XV tahun 1988 di Bandar Lampung dan MTQ Nasional XVI tahun 1991 di Yogyakarta. 


Penampilan tiga golongan lomba ini dirasakan semakin mendorong minat para khattat untuk berpartisipasi dalam MKQ. Pada waktu bersamaan, geliat seni penulisan mushaf modern Indonesia mulai bangkit terutama sejak kehadiran Mushaf Istiqlal (1991-1995) mengiringi kegiatan dekorasi mesjid yg semakin marak, yg kedua-duanya dikerjakan oleh para peserta musabaqah.


Sungguh sangat menarik. Tidak semua usulan dengan mudah dikabulkan. Kelas putri yg berkali-kali diusulkan baru diterima di MTQ Nas XVII tahun 1994 di Pekanbaru, Riau. Berawal dari rasa kasihan melihat peserta putri selalu tersisih oleh putra sehingga kerap kalah sebelum tarung. 


Terasa "ngenes" juga melihat para pelukis dari kampus-kampus seni rupa tidak mampu "menerobos" MKQ yg dibarikade dengan kuatnya oleh para santri yg lebih menguasai kaligrafi murni tradisional. "Saya pengin ikut tapi ga sanggup dah," seperti dikeluhkan beberapa pelukis. Kesedihan ini  menginspirasi saya untuk memperjuangkan Golongan Kaligrafi Kontemporer masuk MTQ (walaupun sudah goal masuk POSPENAS terlebih dahulu). Terasa janggal. Saya pun  cemas:  mungkinkah "gaya aneh bin nyeleneh" ini bisa disandingkan dengan 3 golongan MKQ yang kalem? Ternyata para penentangnya juga banyak. Tidak semua kalangan, bahkan kalangan Dewan Hakim, setuju. Namun,  akhirnya, Golongan Kaligrafi Kontemporer diterima dan masuk MTQ Nasional XXV tahun 2014 di Batam, Kepulauan Riau, setelah melewati 12 tahun perjalanan yg berliku-liku.


Dalam rentang waktu tersebut, telah terjadi perubahan dan  kemajuan kualitas estetis karya peserta seiring modivikasi-modivikasi pedoman musabaqah yg tanpa henti dilakukan. Partisipasi lomba-lomba kaligrafi non-MTQ dan kemunculan lomba-lomba kaligrafi berskala Internasional turut menggembleng peserta dan meng up-grade kualitas karya MKQ. Tapi saya masih penasaran belum berhasil memasukkan Kaligrafi Digital melengkapi 4 golongan MKQ yg sudah ada. Ini sangat penting untuk mengikuti perkembangan  zaman. Mudah-mudahan bisa diperjuangkan dan ketemu di MTQ Nasional XXVIII tahun 2020 di Padang Sumatera barat.

Insyaa Allah


(DidinSirojuddinAR•Lemka)


GAMBAR:

Hakim-hakim MKQ-MTQ Nasional XIII tahun 1983: 

  • Prof. H.M. Salim Fachry, 
  • KH. M. Abd. Razaq Muhili, 
  • C. Israr, Drs. H. Bakhtiar Rajab,
  • Drs. Didin Sirojuddin AR juara I
  • Darami Yunus (dikepung kaligrafi karyanya).

Huruf Saka Masih Ada Dimana-mana

Huruf Saka Masih Ada Dimana-mana

AJI SAKA adalah pahlawan Tanah Djawa dalam legenda. Kalau  HURUF SAKA? Nah, yang ini sekedar akronim dari tulisan yang dibuat SAKenAnya, SAKAinget, SAKAdaek atau SAKArepe dewek, dan SAKAdarna  alias "asal jadi".

Masih banyak tulisan yang dibuat "kurang sempurna" di tengah tambah  maju dan semaraknya seni kaligrafi di Indonesia. Beberapa "karya tanggung" bisa dijumpai di berbagai media seperti mesjid, plang nama atau advertensi, bahkan lukisan.  Jadi, kekurangan atau kesalahannya apa?

  • Ada yang lebih mementingkan unsur artistik nya. Indah tapi salah.
  • Ada yang salah bacaannya sehingga merubah maknanya. Hanya karena kelebihan atau salah memosisikan TITIK,  الرحيم menjadi الرجيم atau ينـــبت menjadi يثــــبت , dll.
  • Ada yang kurang tepat qawaid khattiyah atau kaligrafi-nya, seumpama tercampurnya gaya Naskhi dengan Sulus atau tampilan Diwani dan Farisi yg kurang jelas.
  • Ada yang terkesan "maen tebak" dan "maen tembak"  dengan menulis hanya pakai kuas cina dan tidak menggunakan standar  kalam KHAT, sehingga kaligrafinya "tidak  jelas juntrungannya". Benar-benar jadi khat SAKA, sakenanya.


Kesalahan tulis  umumnya  disebabkan kurang hati-hati, tidak hapal maqra' ayat, atau penulisnya awam qawaid imlaiyah (gramatika Arab).    Kekeliruan khat karena kekurangmatangan menguasai kaligrafi dalam berbagai gayanya. Ada juga yang asal tunjuk dengan "memilih yang paling murah" atau "menyuruh bukan ahlinya". Beberapa mesjid megah berhiaskan dekorasi kaligrafi yang kurang indah bahkan banyak salah. Mesjid itu jadi timpang antara fisik dan arsitekturnya yang megah dengan dekorasi kaligrafinya yang corengcang coreng-moreng serba kurang.

Waaaah, ini tantangan. Pelajaran kaligrafi harus tambah digalakkan.  Ini juga kesempatan bagi para KHATTAT dan pelukis kaligrafi untuk lebih aktif berkarya dan merevisi karya-karya SAKenanyA.


(DidinSirojuddinAR•Lemka)

AJI SAKA adalah pahlawan Tanah Djawa dalam legenda. Kalau  HURUF SAKA? Nah, yang ini sekedar akronim dari tulisan yang dibuat SAKenAnya, SAKAinget, SAKAdaek atau SAKArepe dewek, dan SAKAdarna  alias "asal jadi".

Masih banyak tulisan yang dibuat "kurang sempurna" di tengah tambah  maju dan semaraknya seni kaligrafi di Indonesia. Beberapa "karya tanggung" bisa dijumpai di berbagai media seperti mesjid, plang nama atau advertensi, bahkan lukisan.  Jadi, kekurangan atau kesalahannya apa?

  • Ada yang lebih mementingkan unsur artistik nya. Indah tapi salah.
  • Ada yang salah bacaannya sehingga merubah maknanya. Hanya karena kelebihan atau salah memosisikan TITIK,  الرحيم menjadi الرجيم atau ينـــبت menjadi يثــــبت , dll.
  • Ada yang kurang tepat qawaid khattiyah atau kaligrafi-nya, seumpama tercampurnya gaya Naskhi dengan Sulus atau tampilan Diwani dan Farisi yg kurang jelas.
  • Ada yang terkesan "maen tebak" dan "maen tembak"  dengan menulis hanya pakai kuas cina dan tidak menggunakan standar  kalam KHAT, sehingga kaligrafinya "tidak  jelas juntrungannya". Benar-benar jadi khat SAKA, sakenanya.


Kesalahan tulis  umumnya  disebabkan kurang hati-hati, tidak hapal maqra' ayat, atau penulisnya awam qawaid imlaiyah (gramatika Arab).    Kekeliruan khat karena kekurangmatangan menguasai kaligrafi dalam berbagai gayanya. Ada juga yang asal tunjuk dengan "memilih yang paling murah" atau "menyuruh bukan ahlinya". Beberapa mesjid megah berhiaskan dekorasi kaligrafi yang kurang indah bahkan banyak salah. Mesjid itu jadi timpang antara fisik dan arsitekturnya yang megah dengan dekorasi kaligrafinya yang corengcang coreng-moreng serba kurang.

Waaaah, ini tantangan. Pelajaran kaligrafi harus tambah digalakkan.  Ini juga kesempatan bagi para KHATTAT dan pelukis kaligrafi untuk lebih aktif berkarya dan merevisi karya-karya SAKenanyA.


(DidinSirojuddinAR•Lemka)

Meng-Upgrade Kaligrafi Dengan Teknik Koreksi

Meng-Upgrade Kaligrafi Dengan Teknik Koreksi

D. Sirojuddin AR disela-sela diskusi kecil tentang cara berkarya yang baik dan benar.


الخطُّ الحسَنُ يَزيدُ الحقَّ وُضُوحا


"Tulisan yang bagus menambah kebenaran semakin jelas." (HR Ad-Dailami dalam Musnad Al-Firdaus)


Tulisan CANTIK, BAIK, dan BENAR siapa tidak tertarik?  Tapi bagaimana caranya, karena ketiga "syarat kesempurnaan" tersebut menuntut "kebersihan dari noda dan kesalahan". Itu berarti kaligrafi harus di-upgrade biar menjadi karya yang benar dan Indah dengan cara dinilai melalui KOREKSI.  Koreksi pertama-tama dilakukan oleh guru, tapi khattat juga harus bisa mengoreksi karyanya sendiri. Ini pengalaman seorang korektor:


جرَّبنا طُرقاعديدةً فى إصلاحِ الخطِّ، فلمْ نَجِدْأصلحَ من أن يُصَحِّحَ الطالبُ أخطاءَه بِنفسِه؛ لأنهاتعوِّدُه الأمانةَ والثِّقةَ بنفسِه

"Kami telah mencoba banyak cara mengoreksi kaligrafi. Ternyata, kami tidak menemukan yang lebih tepat selain murid mengoreksi sendiri kesalahannya karena hal itu akan membiasakannya memegang amanah dan percaya diri."


Jadi, selain oleh guru, karya bisa dikoreksi sendiri. Tapi bagaimana caranya? Ini memerlukan MODAL PENGETAHUN tentang poin-poin obyek koreksian yang mudah dan simpel tapi mengena. Obyek-onjek tersebut akan menunjukkan plus-minusnya karya. Singkat kata, "apakah karya khat tsb sudah dianggap  BERES atau KURANG BERES?" 


Itu pertanyaan yang mudah dijawab dengan menggunakan "cara mengoreksi yang paling mudah" sehingga tahu "apakah suatu tulisan sudah harmonis atau belum." Yaitu dengan memeriksa dan mengoreksi bentuknya, ukurannya, tebal-tipisnya, tegak-miringnya, tinggi-rendahnya, dan lengkungannya.


1. BENTUK HURUF


Bentuk-bentuk huruf harus PROPORSIONAL alias BENAR.  Wawu/و Naskhi dan Tsulus, misalnya, berbeda. Bentuk ج ketemu huruf2 naik  ا, ل, ك  tidak sama dengan  ج ketemu  و, م, ب. Bentuk Wawu Diwani, Farisi, Riq'ah bermiripan tapi tidak sama, dan sterusnya.


2. UKURAN HURUF


Besar-kecilnya ukuran huruf harus stabil, jangan yang satu kebesaran yang lainnya kekecilan. Kepantasan ukuran juga ditentukan oleh lebal-tipisnya mata pena.


3. TIPIS-TEBAL HURUF


Goresan horizontal (menyamping) lebih tebal dari pada goresan vertikal (naik-turun). Tapi posisi ujung kalam harus stabil karena menentukan stabilitas tipis-tebalnya goresan. Jangan ada satu huruf yang diulang dengan ketebalan yang berbeda-beda.


4. TEGAK-MIRING HURUF


Huruf-huruf tegak seperti  ا, ك, ل  harus stabil tegak miringnya. Jangan ada yang terlalu miring, sementara yang lainnya kurang miring atau terlalu tegak.


5. TINGGI-RENDAH HURUF


Keharmonisan huruf-huruf tertata dengan keseragaman tinggi rendahnya. Jangan ada yang terlalu pendek sementara beberapa terlalu tinggi.


6. LENGKUNGAN HURUF


Semua huruf memiliki lengkungan, terutama  ق, ن, ي, ل, ح, س, ص . Penulisan lengkungan2 ini harus serasi dan seragam terlebih ketika diulang-ulang.


Sedangkan keharmonisan kaligrafi kontemporer ditentukan oleh "kesahihan khat dan keterbacaannya" dan ketepatan memposisikannya secara proporsional menurut alirannya (figural, ekspresionis, dst.).


Keharmonisan 6 (enam) syarat huruf sahih tersebut dapat menyempurnakan ketepatan spasi, komposisi, proporsi, dan bagian-bagiannya seperti pesan Nabi SAW kepada Abdullah:

ياعــبدالله، وسع مابين السطور، واجمع مابــين الحروف، وارع المناســبة فى صورها، وأعط كل حرف حقها.

"Wahai Abdullah, renggangkan lagi jarak spasi, susunlah huruf dalam komposisi, peliharalah proporsi bentuk-bentuknya, dan berilah setiap huruf hak-haknya".



(DidinSirojuddinAR•Lemka) 

D. Sirojuddin AR disela-sela diskusi kecil tentang cara berkarya yang baik dan benar.


الخطُّ الحسَنُ يَزيدُ الحقَّ وُضُوحا


"Tulisan yang bagus menambah kebenaran semakin jelas." (HR Ad-Dailami dalam Musnad Al-Firdaus)


Tulisan CANTIK, BAIK, dan BENAR siapa tidak tertarik?  Tapi bagaimana caranya, karena ketiga "syarat kesempurnaan" tersebut menuntut "kebersihan dari noda dan kesalahan". Itu berarti kaligrafi harus di-upgrade biar menjadi karya yang benar dan Indah dengan cara dinilai melalui KOREKSI.  Koreksi pertama-tama dilakukan oleh guru, tapi khattat juga harus bisa mengoreksi karyanya sendiri. Ini pengalaman seorang korektor:


جرَّبنا طُرقاعديدةً فى إصلاحِ الخطِّ، فلمْ نَجِدْأصلحَ من أن يُصَحِّحَ الطالبُ أخطاءَه بِنفسِه؛ لأنهاتعوِّدُه الأمانةَ والثِّقةَ بنفسِه

"Kami telah mencoba banyak cara mengoreksi kaligrafi. Ternyata, kami tidak menemukan yang lebih tepat selain murid mengoreksi sendiri kesalahannya karena hal itu akan membiasakannya memegang amanah dan percaya diri."


Jadi, selain oleh guru, karya bisa dikoreksi sendiri. Tapi bagaimana caranya? Ini memerlukan MODAL PENGETAHUN tentang poin-poin obyek koreksian yang mudah dan simpel tapi mengena. Obyek-onjek tersebut akan menunjukkan plus-minusnya karya. Singkat kata, "apakah karya khat tsb sudah dianggap  BERES atau KURANG BERES?" 


Itu pertanyaan yang mudah dijawab dengan menggunakan "cara mengoreksi yang paling mudah" sehingga tahu "apakah suatu tulisan sudah harmonis atau belum." Yaitu dengan memeriksa dan mengoreksi bentuknya, ukurannya, tebal-tipisnya, tegak-miringnya, tinggi-rendahnya, dan lengkungannya.


1. BENTUK HURUF


Bentuk-bentuk huruf harus PROPORSIONAL alias BENAR.  Wawu/و Naskhi dan Tsulus, misalnya, berbeda. Bentuk ج ketemu huruf2 naik  ا, ل, ك  tidak sama dengan  ج ketemu  و, م, ب. Bentuk Wawu Diwani, Farisi, Riq'ah bermiripan tapi tidak sama, dan sterusnya.


2. UKURAN HURUF


Besar-kecilnya ukuran huruf harus stabil, jangan yang satu kebesaran yang lainnya kekecilan. Kepantasan ukuran juga ditentukan oleh lebal-tipisnya mata pena.


3. TIPIS-TEBAL HURUF


Goresan horizontal (menyamping) lebih tebal dari pada goresan vertikal (naik-turun). Tapi posisi ujung kalam harus stabil karena menentukan stabilitas tipis-tebalnya goresan. Jangan ada satu huruf yang diulang dengan ketebalan yang berbeda-beda.


4. TEGAK-MIRING HURUF


Huruf-huruf tegak seperti  ا, ك, ل  harus stabil tegak miringnya. Jangan ada yang terlalu miring, sementara yang lainnya kurang miring atau terlalu tegak.


5. TINGGI-RENDAH HURUF


Keharmonisan huruf-huruf tertata dengan keseragaman tinggi rendahnya. Jangan ada yang terlalu pendek sementara beberapa terlalu tinggi.


6. LENGKUNGAN HURUF


Semua huruf memiliki lengkungan, terutama  ق, ن, ي, ل, ح, س, ص . Penulisan lengkungan2 ini harus serasi dan seragam terlebih ketika diulang-ulang.


Sedangkan keharmonisan kaligrafi kontemporer ditentukan oleh "kesahihan khat dan keterbacaannya" dan ketepatan memposisikannya secara proporsional menurut alirannya (figural, ekspresionis, dst.).


Keharmonisan 6 (enam) syarat huruf sahih tersebut dapat menyempurnakan ketepatan spasi, komposisi, proporsi, dan bagian-bagiannya seperti pesan Nabi SAW kepada Abdullah:

ياعــبدالله، وسع مابين السطور، واجمع مابــين الحروف، وارع المناســبة فى صورها، وأعط كل حرف حقها.

"Wahai Abdullah, renggangkan lagi jarak spasi, susunlah huruf dalam komposisi, peliharalah proporsi bentuk-bentuknya, dan berilah setiap huruf hak-haknya".



(DidinSirojuddinAR•Lemka) 

MTQ Kota Rasa Nasional: Menilai Karya dengan Perbandingan

MTQ Kota Rasa Nasional: Menilai Karya dengan Perbandingan

Salah satu peserta lomba kaligrafi kontemporer Kota Tangerang selatan 2018

Lombanya tingkat Kota tapi hasilnya level Nasional. Kok bisa? Tentu saja, karena sebagian pesertanya adalah calon-calon peserta MTQ Nasional. Itu setidaknya terlihat dilomba kaligrafi (MKQ)  dalam MTQ Tingkat Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Banten. 

Di beberapa daerah  ada juga yang  hampir sama. Karya-karya kaligrafi dengan kualitas estetis hampir mendekati tingkat sempurna. Bagi peserta, ini adalah kebanggaan dan harapan. Bagi Dewan Hakim penilai, penjuriannya cukup memeras keringat. Karya-karya unggulan sekarang "tidak selesai hanya pada benar dan indah-nya saja." Bila sama benar dan indahnya, yang terjadi selanjutnya adalah perbandingan (secara rinci dan detail) antar karya unggulan untuk mencari PLUS-MINUS-nya di luar ketentuan yang pokok.

Para dewan juri kaligrafi MKQ tingkat Kota Tangerang selatan

Setelah tiga unggulan terpilih dan dinyatakan sempurna semua, dilanjutkan dengan seleksi untuk menentukan karya emas, perak, dan _ perunggu. Beberapa poin yg bisa diunggulkan, antara lain:

  • Kreativitas dalam  penyusunan.  Sangat berbeda karya kreatif dg yg "disusun asal jadi".
  • Keragaman dan variasi, seumpama memvariasikan tulisan فيهم/كم dll yg ditulis berulang-ulang.
  • Tidak hanya 1 figur (misalnya hanya figur pohon saja) yg ditonjolkan dlm Kaligrafi Kontemporer FIGURAL, tetapi include juga figur pohon & bukit, atau figur air & awan, dll.
  • Warna-warna semarak dan berani yg menohok mata dan menimbulkan sensasi keindahan, karena hakikatnya  colour is sensation.
  • Kerapihan tanda baca dan tanda waqaf, terutama pada bentuk, ukuran, dan tata letaknya.
  • Inovatif dan ekslusif dalam design dan bahasa rupa sehingga berbeda dari karya lainnya.

Ditengah swasana penilaian MKQ Kota Tangerang selatan 2018

Ada juga peserta yg komentar, "Bikin gregettaaaaan !!! Berasa sudah bagus, belon juga juara, aduduuuuuh."  Tentu saja, asal  syarat-syarat unggulan tadi dipenuhi dan karyanya "lebih bagus dari yg lain" PASTI JUARA. 


(DidinSirojuddinAR•Lemka)

Salah satu peserta lomba kaligrafi kontemporer Kota Tangerang selatan 2018

Lombanya tingkat Kota tapi hasilnya level Nasional. Kok bisa? Tentu saja, karena sebagian pesertanya adalah calon-calon peserta MTQ Nasional. Itu setidaknya terlihat dilomba kaligrafi (MKQ)  dalam MTQ Tingkat Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Banten. 

Di beberapa daerah  ada juga yang  hampir sama. Karya-karya kaligrafi dengan kualitas estetis hampir mendekati tingkat sempurna. Bagi peserta, ini adalah kebanggaan dan harapan. Bagi Dewan Hakim penilai, penjuriannya cukup memeras keringat. Karya-karya unggulan sekarang "tidak selesai hanya pada benar dan indah-nya saja." Bila sama benar dan indahnya, yang terjadi selanjutnya adalah perbandingan (secara rinci dan detail) antar karya unggulan untuk mencari PLUS-MINUS-nya di luar ketentuan yang pokok.

Para dewan juri kaligrafi MKQ tingkat Kota Tangerang selatan

Setelah tiga unggulan terpilih dan dinyatakan sempurna semua, dilanjutkan dengan seleksi untuk menentukan karya emas, perak, dan _ perunggu. Beberapa poin yg bisa diunggulkan, antara lain:

  • Kreativitas dalam  penyusunan.  Sangat berbeda karya kreatif dg yg "disusun asal jadi".
  • Keragaman dan variasi, seumpama memvariasikan tulisan فيهم/كم dll yg ditulis berulang-ulang.
  • Tidak hanya 1 figur (misalnya hanya figur pohon saja) yg ditonjolkan dlm Kaligrafi Kontemporer FIGURAL, tetapi include juga figur pohon & bukit, atau figur air & awan, dll.
  • Warna-warna semarak dan berani yg menohok mata dan menimbulkan sensasi keindahan, karena hakikatnya  colour is sensation.
  • Kerapihan tanda baca dan tanda waqaf, terutama pada bentuk, ukuran, dan tata letaknya.
  • Inovatif dan ekslusif dalam design dan bahasa rupa sehingga berbeda dari karya lainnya.

Ditengah swasana penilaian MKQ Kota Tangerang selatan 2018

Ada juga peserta yg komentar, "Bikin gregettaaaaan !!! Berasa sudah bagus, belon juga juara, aduduuuuuh."  Tentu saja, asal  syarat-syarat unggulan tadi dipenuhi dan karyanya "lebih bagus dari yg lain" PASTI JUARA. 


(DidinSirojuddinAR•Lemka)

adv/https://noqtahcalligraphy.indonetwork.co.id/|https://4.bp.blogspot.com/-AEfGbcDTw4U/W7wpmgMis4I/AAAAAAAAOxQ/W68LIDCdPjkgPwAreEEpZityVkMSZ_5yACLcBGAs/s1600/ahlinya%2Bseni%2Bgrc%2B160%2Bx%2B416.jpg

Sponsor

adv/https://noqtahcalligraphy.indonetwork.co.id/|https://4.bp.blogspot.com/-AEfGbcDTw4U/W7wpmgMis4I/AAAAAAAAOxQ/W68LIDCdPjkgPwAreEEpZityVkMSZ_5yACLcBGAs/s1600/ahlinya%2Bseni%2Bgrc%2B160%2Bx%2B416.jpg
adv/https://noqtahcalligraphy.indonetwork.co.id/products/dekorasi-kaligrafi-33857|https://2.bp.blogspot.com/-Xr9d8K7JKFs/Wwoo2oBmXPI/AAAAAAAAMLY/92LdoL1KZWAr2V1UAUXzLIh_g3Cf6_UPACLcBGAs/s1600/spesialis%2Bkaligrafi.png

Random Posts

randomposts

Like Us

fb/https://www.facebook.com/robiansindonesia