Kaligrafi
GRC/feature

Arsitektur

Arsitektur/module

GRC Ornamen

GRC/column

Breaking

adv/http://www.mogflat.blogspot.com|https://4.bp.blogspot.com/-DZ_Cwatt2bg/WNHXQEGTzFI/AAAAAAAAB-E/pPAl0mITF6UZM1Xh-6FfO8y5YUkIgCbAgCLcB/s1600/adv-3.jpg

Info

Info/style
adv/http://www.mogflat.blogspot.com|https://4.bp.blogspot.com/-DZ_Cwatt2bg/WNHXQEGTzFI/AAAAAAAAB-E/pPAl0mITF6UZM1Xh-6FfO8y5YUkIgCbAgCLcB/s1600/adv-3.jpg

Lomba dan Sayembara

Lomba dan Sayembara/style

Lukisan Kaligrafi

Lukisan Kaligrafi/carousel

Videos

Video/box

Recent Posts

Mengawinkan Kaligrafi dan Filologi Di Taman Mini

Mengawinkan Kaligrafi dan Filologi Di Taman Mini

Kunjungan para santri Pesantren Kaligrafi Alquran LEMKA Sukabumi di Bayt Alquran dan Museum Istiqlal

Perjalanan paling mengasyikan adalah "perjalanan sambil nengok kanan-kiri" :

 قل سيروافى الأرض فانظروا

(Katakan: "Berjalanlah di bumi, lalu lihatlah!").


Seperti Safari Seni 200an santri Pesantren Kaligrafi Alquran Lemka ke Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Di anjungan Bayt Al-Qur'an dan Museum Istiqlal (BQ & MI), para santri yang lagi PPL Sejarah  menyaksikan dua dunia dalam satu atap  yaitu tulisan dan lukisan kaligrafi dari dunia seni  dan naskah-naskah kuno dari dunia Filologi. Mereka berniat melirikkan pandangan kepada keduanya. Sebab, kajian kaligrafi dan filologi, selama ini seakan "pisah ranjang". Ada yang hanya kesengsem kaligrafi lantaran  lebih cantik dan komersil. Yang satunya serius sendirian, sehingga  kajian terhadap naskah-naskah Nusantara didominasi para *filolog* yang hanya mengkaji teks bukan oleh kaligrafer dan peminat atau sejarawan seni.


"Kami ingin mengkombinasi keduanya," kata seorang santriwati  Lemka yang saban hari tangannya belepotan karena  dipakai ngaduk cat.  Ia  mengibaratkannya dengan teknik mixed media atau media campuran oil painting dengan acrylic dalam lukisan. "Minyak dan air saja bisa dipersatukan dalam canvas. Gak seperti kata  Mansyur S penyanyi dangdut itu," tambahnya sedikit berseloroh. Benar juga sih. Lha wong partai-partai politik yang berlawanan saja bisa berkoalisi.


Benar-benar asyik nih. Karya-karya kaligrafi di gedung buatan  Presiden Soeharto 1997 warisan Festival Istiqlal I dan II ini menerangkan banyak hal: Teknik apresiasi dan variasi gaya para master khat dengan sederet nama para kaligrafer.  Informasi tentang perkakas tulis &  lukis, dan pelajaran yg dimulai dari rancang bangun desain dan teknik menggores kalam dan menorehkan kuas, sampai finishing touch melalui pertimbangan  unsur-unsur elemen rupa: unsur garis, bentuk, volume, cahaya, warna, tekstur, ruang, dan bidang. Mazhab-mazhab  Tradisional dan kontemporer. Karya-karya hasil MTQ Nasional (Naskah, Hiasan Mushaf, Dekorasi, dan Kontemporer) dan kompetisi di Islamic Art Festival. Banyak pula lukisan kaligrafi koleksi Lemka. Beberapa bahkan diterakan pada benda-benda tua seperti gerabah, kayu, kaca, dan kain tapis. Kanvaslah yang paling mendominasi, kebanyakan produk tahun 2000an.  Tampilan karya-karya ini seperti menelusuri zona waktu yg telah melahirkan keahlian dan  kebudayaan semesta: 

الخط من الصناعات المدنية التى تقوى وتضعف بقوة الحضارة وضعفها.


"Kaligrafi adalah produk kemajuan yang menguat dan melemah karena kuat dan lemahnya  kebudayaan."


Pameran di Bayt Alquran dan Museum Istiqlal didominasi oleh naskah-naskah Alqur'an dan Tafsir berbentuk manuskrip dan cetakan. Banyak pula manuskrip keagamaan bukan Alqur'an. Pendukungnya adalah karya-karya arsitektur, tekstil, nisan, seni rupa tradisional, seni rupa moderen, dan warisan budaya Islam (Islamic Heritage). Yang paling menarik adalah naskah-naskah Alqur'an tua dari abad 17-20 dan tulisan tangan Alqur'an modern yang dipelopori oleh Mushaf Istiqlal (1991-1995), Mushaf Sundawi, Mushaf Jakarta, Mushaf Ibu Tien Soeharto, sampai Mushaf Al-Bantani. Perhatian tertuju pada rasam dan sisi visualnya, yaitu iluminasi dan kaligrafi yang jadi "makanan sehari-hari"  santri Lemka tapi kurang mendapat perhatian dari para peminat kajian naskah Nusantara. "Untuk zamannya, semuanya indah-indah, luar biasa,"  komentar para santri. "Dan Mushaf Istiqlal, ini dia maha karya putra-putri terbaik Indonesia, karena beriluminasi ragam hias nusantara yang melibatkan desainer, para khattat kreatif (warraqun mubdi'un, الوراقون المبدؤون), dan iluminator ahli."  Nampak cahaya Islam tambah jelas via pancaran cahaya Alquran:

القرآن هوأول رافع لمناظرالخط العربى


"Al-Qur'an adalah yg pertama kali mengangkat mercusuar kaligrafi."


Seluruh kerja kreatif ini, sebagaimana dalam tradisi penyalinan mushaf dan teks-teks non-Qur'anis di Dunia Islam, masuk lingkup gerakan ilmiah dan kebudayaan mengiringi  pergerakan sejarah kebudayaan umat  manusia. WARRAQAH (الوراقة) atau "kegiatan penyalinan naskah: penulisannya, penyebarannya, editingnya, dan distribusinya" benar-benar jadi barokah  untuk para penulis (mencakup iluminator dan petugas pengEMASan), pasar kertas dan peralatan tulis seperti kalam khat, tinta dan wadahnya, penjilidan dan  penjual buku.


Setelah rehat 2 jaman untuk menikmati pusat-pusat hiburan Taman Mini, para santri Lemka masuk Teater Imax Keong Emas untuk nonton film The Journey to Mekkah, kisah sulitnya perjananan Ibnu Batutah yg harus bersabung nyawa untuk pergi haji. Nobar ini sebagai "praktik merasakan" sebagian dari naskah filologis  Ibnu Juza'i, Tuhfah  an-Nuzzar fi Gara'ib  al-Amshar wa 'Aja'ib  al-Asfar (Persembahan Seorang Pengamat tentang Kota-Kota Asing dan Perjalanan yg Mengagumkan) atau yg lebih dikenal dengan kitab Al-Rihlah (journey, perjalanan) Ibnu Batutah. Hebat tidak? Ketika usia 21 tahun, Ibnu Batutah yang lahir di Marokko 25/2/1304 memulai perjalanan panjang yang mencakup 120.700 km² selama hampir 3 dasawarsa. Tiga kali lebih dahsyat dari pada pengembara  Marcopolo! Ibnu Batutah berkelana dengan tujuan  untuk mengenal bangsa-bangsa baru dan bertemu banyak orang dari latar belakang dan kebudayaan yang beragam. Karena terkagum-kagum dengan perjalanan pertamanya, ia bersumpah untuk mengunjungi sebanyak mungkin tempat yang dapat dikunjunginya selama hayatnya. Salah satunya Pulau Sumatera, yang disebutnya "Pulau Jawa yang menghijau". Ibnu Batutah sampai di pelabuhan Kerajaan Samudera Pasai yg disebutnya "kota yg indah".


Ya, seindah perjalanan menuntut ilmu dan seindah bisa menautkan studi  kaligrafi dengan Filologi. 



(DidinSirojuddinAR•Lemka)

Kunjungan para santri Pesantren Kaligrafi Alquran LEMKA Sukabumi di Bayt Alquran dan Museum Istiqlal

Perjalanan paling mengasyikan adalah "perjalanan sambil nengok kanan-kiri" :

 قل سيروافى الأرض فانظروا

(Katakan: "Berjalanlah di bumi, lalu lihatlah!").


Seperti Safari Seni 200an santri Pesantren Kaligrafi Alquran Lemka ke Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Di anjungan Bayt Al-Qur'an dan Museum Istiqlal (BQ & MI), para santri yang lagi PPL Sejarah  menyaksikan dua dunia dalam satu atap  yaitu tulisan dan lukisan kaligrafi dari dunia seni  dan naskah-naskah kuno dari dunia Filologi. Mereka berniat melirikkan pandangan kepada keduanya. Sebab, kajian kaligrafi dan filologi, selama ini seakan "pisah ranjang". Ada yang hanya kesengsem kaligrafi lantaran  lebih cantik dan komersil. Yang satunya serius sendirian, sehingga  kajian terhadap naskah-naskah Nusantara didominasi para *filolog* yang hanya mengkaji teks bukan oleh kaligrafer dan peminat atau sejarawan seni.


"Kami ingin mengkombinasi keduanya," kata seorang santriwati  Lemka yang saban hari tangannya belepotan karena  dipakai ngaduk cat.  Ia  mengibaratkannya dengan teknik mixed media atau media campuran oil painting dengan acrylic dalam lukisan. "Minyak dan air saja bisa dipersatukan dalam canvas. Gak seperti kata  Mansyur S penyanyi dangdut itu," tambahnya sedikit berseloroh. Benar juga sih. Lha wong partai-partai politik yang berlawanan saja bisa berkoalisi.


Benar-benar asyik nih. Karya-karya kaligrafi di gedung buatan  Presiden Soeharto 1997 warisan Festival Istiqlal I dan II ini menerangkan banyak hal: Teknik apresiasi dan variasi gaya para master khat dengan sederet nama para kaligrafer.  Informasi tentang perkakas tulis &  lukis, dan pelajaran yg dimulai dari rancang bangun desain dan teknik menggores kalam dan menorehkan kuas, sampai finishing touch melalui pertimbangan  unsur-unsur elemen rupa: unsur garis, bentuk, volume, cahaya, warna, tekstur, ruang, dan bidang. Mazhab-mazhab  Tradisional dan kontemporer. Karya-karya hasil MTQ Nasional (Naskah, Hiasan Mushaf, Dekorasi, dan Kontemporer) dan kompetisi di Islamic Art Festival. Banyak pula lukisan kaligrafi koleksi Lemka. Beberapa bahkan diterakan pada benda-benda tua seperti gerabah, kayu, kaca, dan kain tapis. Kanvaslah yang paling mendominasi, kebanyakan produk tahun 2000an.  Tampilan karya-karya ini seperti menelusuri zona waktu yg telah melahirkan keahlian dan  kebudayaan semesta: 

الخط من الصناعات المدنية التى تقوى وتضعف بقوة الحضارة وضعفها.


"Kaligrafi adalah produk kemajuan yang menguat dan melemah karena kuat dan lemahnya  kebudayaan."


Pameran di Bayt Alquran dan Museum Istiqlal didominasi oleh naskah-naskah Alqur'an dan Tafsir berbentuk manuskrip dan cetakan. Banyak pula manuskrip keagamaan bukan Alqur'an. Pendukungnya adalah karya-karya arsitektur, tekstil, nisan, seni rupa tradisional, seni rupa moderen, dan warisan budaya Islam (Islamic Heritage). Yang paling menarik adalah naskah-naskah Alqur'an tua dari abad 17-20 dan tulisan tangan Alqur'an modern yang dipelopori oleh Mushaf Istiqlal (1991-1995), Mushaf Sundawi, Mushaf Jakarta, Mushaf Ibu Tien Soeharto, sampai Mushaf Al-Bantani. Perhatian tertuju pada rasam dan sisi visualnya, yaitu iluminasi dan kaligrafi yang jadi "makanan sehari-hari"  santri Lemka tapi kurang mendapat perhatian dari para peminat kajian naskah Nusantara. "Untuk zamannya, semuanya indah-indah, luar biasa,"  komentar para santri. "Dan Mushaf Istiqlal, ini dia maha karya putra-putri terbaik Indonesia, karena beriluminasi ragam hias nusantara yang melibatkan desainer, para khattat kreatif (warraqun mubdi'un, الوراقون المبدؤون), dan iluminator ahli."  Nampak cahaya Islam tambah jelas via pancaran cahaya Alquran:

القرآن هوأول رافع لمناظرالخط العربى


"Al-Qur'an adalah yg pertama kali mengangkat mercusuar kaligrafi."


Seluruh kerja kreatif ini, sebagaimana dalam tradisi penyalinan mushaf dan teks-teks non-Qur'anis di Dunia Islam, masuk lingkup gerakan ilmiah dan kebudayaan mengiringi  pergerakan sejarah kebudayaan umat  manusia. WARRAQAH (الوراقة) atau "kegiatan penyalinan naskah: penulisannya, penyebarannya, editingnya, dan distribusinya" benar-benar jadi barokah  untuk para penulis (mencakup iluminator dan petugas pengEMASan), pasar kertas dan peralatan tulis seperti kalam khat, tinta dan wadahnya, penjilidan dan  penjual buku.


Setelah rehat 2 jaman untuk menikmati pusat-pusat hiburan Taman Mini, para santri Lemka masuk Teater Imax Keong Emas untuk nonton film The Journey to Mekkah, kisah sulitnya perjananan Ibnu Batutah yg harus bersabung nyawa untuk pergi haji. Nobar ini sebagai "praktik merasakan" sebagian dari naskah filologis  Ibnu Juza'i, Tuhfah  an-Nuzzar fi Gara'ib  al-Amshar wa 'Aja'ib  al-Asfar (Persembahan Seorang Pengamat tentang Kota-Kota Asing dan Perjalanan yg Mengagumkan) atau yg lebih dikenal dengan kitab Al-Rihlah (journey, perjalanan) Ibnu Batutah. Hebat tidak? Ketika usia 21 tahun, Ibnu Batutah yang lahir di Marokko 25/2/1304 memulai perjalanan panjang yang mencakup 120.700 km² selama hampir 3 dasawarsa. Tiga kali lebih dahsyat dari pada pengembara  Marcopolo! Ibnu Batutah berkelana dengan tujuan  untuk mengenal bangsa-bangsa baru dan bertemu banyak orang dari latar belakang dan kebudayaan yang beragam. Karena terkagum-kagum dengan perjalanan pertamanya, ia bersumpah untuk mengunjungi sebanyak mungkin tempat yang dapat dikunjunginya selama hayatnya. Salah satunya Pulau Sumatera, yang disebutnya "Pulau Jawa yang menghijau". Ibnu Batutah sampai di pelabuhan Kerajaan Samudera Pasai yg disebutnya "kota yg indah".


Ya, seindah perjalanan menuntut ilmu dan seindah bisa menautkan studi  kaligrafi dengan Filologi. 



(DidinSirojuddinAR•Lemka)

Kaligrafi di Bendera Rasulullah?

Kaligrafi di Bendera Rasulullah?

Yang dikibarkan dan dikobarkan Rasulullah adalah semangat dan kumandang TAUHID:

لاإله إلاّاللّه محمّدرسول اللّه

bukan bendera berkaligrafi KALIMAT TAUHID:

لاإله إلاالله محمدرسول الله

               

Dalam  peperangan, Rasulullah SAW diketahui selalu membawa bendera. Lebih jelas dalam Perang Mu'tah, beliau menyerahkan bendera kepada Zaid bin Haritsah yang ditunjuk memimpin 3000 prajurit pilihan untuk menghadapi 300.000 pasukah Romawi dan Arab di bawah komando Heraklius. Bendera itu berpindah-pindah tangan dari Zaid ke Ja'far bin Abi Thalib, lalu berpindah lagi ke Abdullah bin Rawahah setelah satu-persatu gugur menjadi syahid.  Bendera Nabi diambil oleh Tsabit bin Arqam yang  kemudian diserahkan kepada Khalid bin Walid sebagai komandan tempur terakhir. 


Namun, bendera ini dan bendera-bendera yang digunakan Rasulullah lainnya masih polos. Tidak mencantumkan satu pun kalimat, simbol atau yel-yel. Rasulullah hanya mengutus para pemberani seperti Umar bin Khattab untuk pergi duluan guna "menggertak" penduduk yang mau diserbu sambil meneriakkan: 

قولوالاإله إلاالله تمنعواأنفسكم وأهليكم نارا

"Katakan: LA ILAHA ILLALLAH, pasti dirimu dan keluargamu tercegah dari api neraka!!"


Maka, klaim bahwa bendera Rasulullah bertuliskan KALIMAT TAUHID 

لاإله إلاّاللّه محمّدرسول اللّه

seperti  banyak diperbincangkan waktu-waktu  belakangan,  tidaklah benar dan tanpa dasar yg akurat. Tidak pula dikuatkan fakta dokumenter yg ditinggalkan.


Dalam perang-perang bersama Khalid pun (sampai zaman Umar), bendera tentara Islam masih polos. Dalam film dokumenter, Khalid bahkan memanggil satu persatu batalionnya untuk maju dengan bendera masing-masing:

"Al-'alamul abyadh!!!"  (bendera putih)

"Al-'alamul ahdhar!!!" (bendera hijau) 

"Al-'alamul azraq!!!"_ (bendera biru) dst.


Lantas dari mana kita tahu, bendera Rasulullah tidak berisi KALIGRAFI apa pun?


Tulisan Arab di jaman Rasulullah masih sederhana dan hanya digunakan untuk menyalin teks wahyu di media kulit, pelepah kurma, batu, dan kayu yang tercecer di  tempat-tempat wahyu diturunkan. Gaya khat Kufi Qadim atau Kufi Mushaf kuno ini hanya bersifat fungsional, yakni semata untuk tulisan Al-Qur'an; belum berperan estetis seumpama untuk lukisan, simbol, atau dekorasi. Khat Kufi, pada periode awal Islam, masih "mencari bentuk kesempurnaannya" di antara percampuran gaya Muqawwar wa Mudawwar (yang lentur plastis) dan Mabsuth wa Mustaqim (yang kaku kejur menjulur). Bagaimana mungkin para muslim awal sudah  memikirkan untuk menjadikan "tulisan yg belum sempurna" sebagai alat penghias seperti aksesoris bendera atau rumah tinggal mereka? Mustahil. Dunia tulis-menulis belum  mentradisi, kecuali di beberapa kalangan yg bisa dihitung dengan jari. Bahkan Rasulullah  pernah memerintahkan "menghapus informasi apa pun  selain Al-Qur'an" yg datang dari dirinya, dikhawatirkan tercampurnya Al-Qur'an dengan unsur kata-kata lain saat kitab suci dikodifikasi:

لا تكتبواعنى ومن كتب عنى غيرالقرآن فليمحه. حدثواعنى ولا حرج ومن كذب على متعمدافليتبوأمقعده من النار. (رواه هسلم)

"Jangan tulis tentang diriku. Siapa menulis dariku selain Al-Qur'an, hendaknya dia menghapusnya kembali. Bicarakanlah tentang aku dan itu tidak mengapa. Tapi siapa berdusta atas  namaku, maka silakan menduduki  tempatnya di neraka." (HR Muslim).


Ini menutup kemungkinan adanya tulisan atau lukisan kaligrafi di medium selain lembaran-lembaran Al-Qur'an yang tercecer, yang itu pun baru berhasil dikumpulkan di masa Abu Bakar, sepeninggal Rasulullah. Jika pun ada teks lain, hanyalah surat-surat Nabi kepada Raja-raja (Heraklius, Kisra, Muqauqis, Harits Al-Ghassani, Harits Al-Himyari, dan Najasi). Surat-surat ini dicap stempel محمد رسول الله yg beliau desain sendiri dengan memosisikan kata الله paling atas kemudian رسول, dan محمد paling bawah.


Menasabkan bendera-bendera berkaligrafi khat Tsulus sempurna (seperti bendera Arab Saudi, bendera HTI, dll.) sebagai "bendera Rasulullah" lebih tidak tepat lagi. Sebab, khat Tsulus belum lahir di masa Rasulullah. Tsulus lahir atas inisiatif Khalifah Muawiyah sebagai usaha "menggali batang terendam" bersama khat-khat lainnya seperti Thumar, Jalil, Nishf, Muhaqqaq, Raihani, Tauqi sebagai alternatif pengganti Kufi yang kurang praktis baik untuk penyalinan Al-Qur'an maupun untuk transaksi-transaksi bisnis administrasi. Kaligrafi di bendera-bendera tersebut bahkan sudah masuk lingkup khat Tsulus Jali yang puncaknya jauh setelah periode Bani Umayah dan Bani Abbas, yaitu Turki Usmani. 


Yang mendekati pola Kufi zaman Nabi, justeru, kalimat tauhid pada bendera ISIS. Namun, sekali lagi, tulisan tersebut di zaman Nabi hanya digunakan untuk menyalin mushaf Al-Qur'an. Klaim "bendera Rasulullah" karena ada tanda tangan  محمدرسول الله di baris bawahnya  tidak berdasar.  Tulisan tersebut menjiplak stempel Rasulullah untuk surat-suratnya yg dikirimkan kepada Raja-raja dan mirip tulisan pada koin-koin Islam dari dinasti Bani Thulun dan Bani Seljuk. Dengan demikian, bendera ISIS dan bendera-bendera berkalimat tauhid lainnya bukanlah "bendera Rasulullah".


KALIMAT TAUHID di bendera, apalagi jika ditulis dg KALIGRAFI yg indah, sangat bagus. Tapi jangan diklaim sebagai "bendera Rasulullah" karena beliau tidak pernah menggunakan bendera yg itu.  Tulisan ini hanya sekedar memberi  informasi. Begitulah sejarah yang sebenarnya. Supaya kita tidak larut dan berlarut-larut dalam cerita yang dibikin-bikin alias bohong. 



(DidinSirojuddinAR•Lemka)

Yang dikibarkan dan dikobarkan Rasulullah adalah semangat dan kumandang TAUHID:

لاإله إلاّاللّه محمّدرسول اللّه

bukan bendera berkaligrafi KALIMAT TAUHID:

لاإله إلاالله محمدرسول الله

               

Dalam  peperangan, Rasulullah SAW diketahui selalu membawa bendera. Lebih jelas dalam Perang Mu'tah, beliau menyerahkan bendera kepada Zaid bin Haritsah yang ditunjuk memimpin 3000 prajurit pilihan untuk menghadapi 300.000 pasukah Romawi dan Arab di bawah komando Heraklius. Bendera itu berpindah-pindah tangan dari Zaid ke Ja'far bin Abi Thalib, lalu berpindah lagi ke Abdullah bin Rawahah setelah satu-persatu gugur menjadi syahid.  Bendera Nabi diambil oleh Tsabit bin Arqam yang  kemudian diserahkan kepada Khalid bin Walid sebagai komandan tempur terakhir. 


Namun, bendera ini dan bendera-bendera yang digunakan Rasulullah lainnya masih polos. Tidak mencantumkan satu pun kalimat, simbol atau yel-yel. Rasulullah hanya mengutus para pemberani seperti Umar bin Khattab untuk pergi duluan guna "menggertak" penduduk yang mau diserbu sambil meneriakkan: 

قولوالاإله إلاالله تمنعواأنفسكم وأهليكم نارا

"Katakan: LA ILAHA ILLALLAH, pasti dirimu dan keluargamu tercegah dari api neraka!!"


Maka, klaim bahwa bendera Rasulullah bertuliskan KALIMAT TAUHID 

لاإله إلاّاللّه محمّدرسول اللّه

seperti  banyak diperbincangkan waktu-waktu  belakangan,  tidaklah benar dan tanpa dasar yg akurat. Tidak pula dikuatkan fakta dokumenter yg ditinggalkan.


Dalam perang-perang bersama Khalid pun (sampai zaman Umar), bendera tentara Islam masih polos. Dalam film dokumenter, Khalid bahkan memanggil satu persatu batalionnya untuk maju dengan bendera masing-masing:

"Al-'alamul abyadh!!!"  (bendera putih)

"Al-'alamul ahdhar!!!" (bendera hijau) 

"Al-'alamul azraq!!!"_ (bendera biru) dst.


Lantas dari mana kita tahu, bendera Rasulullah tidak berisi KALIGRAFI apa pun?


Tulisan Arab di jaman Rasulullah masih sederhana dan hanya digunakan untuk menyalin teks wahyu di media kulit, pelepah kurma, batu, dan kayu yang tercecer di  tempat-tempat wahyu diturunkan. Gaya khat Kufi Qadim atau Kufi Mushaf kuno ini hanya bersifat fungsional, yakni semata untuk tulisan Al-Qur'an; belum berperan estetis seumpama untuk lukisan, simbol, atau dekorasi. Khat Kufi, pada periode awal Islam, masih "mencari bentuk kesempurnaannya" di antara percampuran gaya Muqawwar wa Mudawwar (yang lentur plastis) dan Mabsuth wa Mustaqim (yang kaku kejur menjulur). Bagaimana mungkin para muslim awal sudah  memikirkan untuk menjadikan "tulisan yg belum sempurna" sebagai alat penghias seperti aksesoris bendera atau rumah tinggal mereka? Mustahil. Dunia tulis-menulis belum  mentradisi, kecuali di beberapa kalangan yg bisa dihitung dengan jari. Bahkan Rasulullah  pernah memerintahkan "menghapus informasi apa pun  selain Al-Qur'an" yg datang dari dirinya, dikhawatirkan tercampurnya Al-Qur'an dengan unsur kata-kata lain saat kitab suci dikodifikasi:

لا تكتبواعنى ومن كتب عنى غيرالقرآن فليمحه. حدثواعنى ولا حرج ومن كذب على متعمدافليتبوأمقعده من النار. (رواه هسلم)

"Jangan tulis tentang diriku. Siapa menulis dariku selain Al-Qur'an, hendaknya dia menghapusnya kembali. Bicarakanlah tentang aku dan itu tidak mengapa. Tapi siapa berdusta atas  namaku, maka silakan menduduki  tempatnya di neraka." (HR Muslim).


Ini menutup kemungkinan adanya tulisan atau lukisan kaligrafi di medium selain lembaran-lembaran Al-Qur'an yang tercecer, yang itu pun baru berhasil dikumpulkan di masa Abu Bakar, sepeninggal Rasulullah. Jika pun ada teks lain, hanyalah surat-surat Nabi kepada Raja-raja (Heraklius, Kisra, Muqauqis, Harits Al-Ghassani, Harits Al-Himyari, dan Najasi). Surat-surat ini dicap stempel محمد رسول الله yg beliau desain sendiri dengan memosisikan kata الله paling atas kemudian رسول, dan محمد paling bawah.


Menasabkan bendera-bendera berkaligrafi khat Tsulus sempurna (seperti bendera Arab Saudi, bendera HTI, dll.) sebagai "bendera Rasulullah" lebih tidak tepat lagi. Sebab, khat Tsulus belum lahir di masa Rasulullah. Tsulus lahir atas inisiatif Khalifah Muawiyah sebagai usaha "menggali batang terendam" bersama khat-khat lainnya seperti Thumar, Jalil, Nishf, Muhaqqaq, Raihani, Tauqi sebagai alternatif pengganti Kufi yang kurang praktis baik untuk penyalinan Al-Qur'an maupun untuk transaksi-transaksi bisnis administrasi. Kaligrafi di bendera-bendera tersebut bahkan sudah masuk lingkup khat Tsulus Jali yang puncaknya jauh setelah periode Bani Umayah dan Bani Abbas, yaitu Turki Usmani. 


Yang mendekati pola Kufi zaman Nabi, justeru, kalimat tauhid pada bendera ISIS. Namun, sekali lagi, tulisan tersebut di zaman Nabi hanya digunakan untuk menyalin mushaf Al-Qur'an. Klaim "bendera Rasulullah" karena ada tanda tangan  محمدرسول الله di baris bawahnya  tidak berdasar.  Tulisan tersebut menjiplak stempel Rasulullah untuk surat-suratnya yg dikirimkan kepada Raja-raja dan mirip tulisan pada koin-koin Islam dari dinasti Bani Thulun dan Bani Seljuk. Dengan demikian, bendera ISIS dan bendera-bendera berkalimat tauhid lainnya bukanlah "bendera Rasulullah".


KALIMAT TAUHID di bendera, apalagi jika ditulis dg KALIGRAFI yg indah, sangat bagus. Tapi jangan diklaim sebagai "bendera Rasulullah" karena beliau tidak pernah menggunakan bendera yg itu.  Tulisan ini hanya sekedar memberi  informasi. Begitulah sejarah yang sebenarnya. Supaya kita tidak larut dan berlarut-larut dalam cerita yang dibikin-bikin alias bohong. 



(DidinSirojuddinAR•Lemka)

Catatan Kenangan : Bila MTQ Nasional Di Sumatera Barat Lagi

Catatan Kenangan : Bila MTQ Nasional Di Sumatera Barat Lagi

Bila MTQ Nasional (XXVIII/2020) berlangsung di Sumatera Barat lagi... Bila umur panjang dan ditugaskan lagi... Bagi saya, ini akan jadi kenangan. Sebab, 35 tahun lalu (1983) di provinsi inilah saya untuk pertama kali jadi juri Musabaqah Khat Al-Qur'an (MKQ) yang waktu itu baru berupa sayembara. Agak grogi juga sih, waktu itu. Bagaimana tidak? Saya tidak punya pengalaman. Satu kali pun belum pernah jadi juri. Tiba-tiba harus duduk bersama dg para kiai dan hamalatul Qur'an. Mereka semua senior, banyak mantan juara tilawah. Sedangkan saya yg baru berumur 26 tahun hanya pernah mengikuti MKQ pertama di MTQ Nasional XII tahun1981 di Banda Aceh sebelumnya, saat masih kuliah semester VI. Itu pun langsung gagal jadi juara. Ya Allah, 2 tahun kemudian malah diangkat jadi jurinya di Tingkat Nasional di Padang.


Saya diajak oleh 2 guru saya Prof. H. M. Salim Fachry (penulis Al-Qur'an Pusaka Bung Karno) dan KH. M. Abd. Razaq Muhili (khattat perintis Indonesia, ayahnya KH. M. Faiz Abd. Razaq). Di pesawat, saya sampaikan keinginan membuat semacam sekolah  kaligrafi. Belum terbayangkan apa namanya. Sampai LEMKA lahir 2 tahun kemudian, 1985, di IAIN Jakarta dan Pesantren Kaligrafi Alqur'an Lemka di Sukabumi 13 tahun sesudahnya, 1998. 


Ustaz Salim dan Ustaz Razaq adalah Dewan Hakim pada MKQ Pertama di Banda Aceh. Dalam MTQ Nasional XIII/1983 di Padang, DH MKQnya adalah Prof. H.M. Salim Fachry, KH. M. Abd. Razaq Muhili, Drs. Didin Sirojuddin AR, H. Chazanatul Israr (C. Israr, penulis buku Sejarah Kesenian Islam), dan Drs. H.  Bakhtiar Rajab, kedua terakhir adalah dosen di IAIN Imam Bonjol, Padang. Paniteranya adalah anak muda energik, Ir. Bus Harmaedi. Sedangkan pemenang sayembaranya:  Darami Yunus (Batusangkar, adik seayah Prof. Dr. H. Mahmud Yunus), Wasi Abd. Razaq  (Bandung, adiknya KHM Faiz Abd. Razaq), dan Imron Isma'iel (Cirebon). 


Kecuali di MTQ Nasional XIV tahun 1985 di Pontianak dimana khat hanya didemonstrasikan di muka umum dan tidak dilombakan, saya terus jadi juri berturut-turut  sampai MTQ Nasional XXVII tahun 2018 di Medan.


Saya tidak puas dengan sayembara individual yang hanya menulis khat Naskhi dan Tsulus hitam putih.  Lalu bergerak cepat  turut merumuskan pengembangan lomba secara langsung yang diikuti wakil-wakil kafilah Provinsi menjadi Golongan Penulisan Buku (sekarang Golongan Naskah), Golongan Hiasan Mushaf, dan Golongan Dekorasi.  Masing-masing diikuti seorang peserta tanpa membedakan kelas putra dan putri, yg  mulai diberlakukan pada MTQ Nasional XV tahun 1988 di Bandar Lampung dan MTQ Nasional XVI tahun 1991 di Yogyakarta. 


Penampilan tiga golongan lomba ini dirasakan semakin mendorong minat para khattat untuk berpartisipasi dalam MKQ. Pada waktu bersamaan, geliat seni penulisan mushaf modern Indonesia mulai bangkit terutama sejak kehadiran Mushaf Istiqlal (1991-1995) mengiringi kegiatan dekorasi mesjid yg semakin marak, yg kedua-duanya dikerjakan oleh para peserta musabaqah.


Sungguh sangat menarik. Tidak semua usulan dengan mudah dikabulkan. Kelas putri yg berkali-kali diusulkan baru diterima di MTQ Nas XVII tahun 1994 di Pekanbaru, Riau. Berawal dari rasa kasihan melihat peserta putri selalu tersisih oleh putra sehingga kerap kalah sebelum tarung. 


Terasa "ngenes" juga melihat para pelukis dari kampus-kampus seni rupa tidak mampu "menerobos" MKQ yg dibarikade dengan kuatnya oleh para santri yg lebih menguasai kaligrafi murni tradisional. "Saya pengin ikut tapi ga sanggup dah," seperti dikeluhkan beberapa pelukis. Kesedihan ini  menginspirasi saya untuk memperjuangkan Golongan Kaligrafi Kontemporer masuk MTQ (walaupun sudah goal masuk POSPENAS terlebih dahulu). Terasa janggal. Saya pun  cemas:  mungkinkah "gaya aneh bin nyeleneh" ini bisa disandingkan dengan 3 golongan MKQ yang kalem? Ternyata para penentangnya juga banyak. Tidak semua kalangan, bahkan kalangan Dewan Hakim, setuju. Namun,  akhirnya, Golongan Kaligrafi Kontemporer diterima dan masuk MTQ Nasional XXV tahun 2014 di Batam, Kepulauan Riau, setelah melewati 12 tahun perjalanan yg berliku-liku.


Dalam rentang waktu tersebut, telah terjadi perubahan dan  kemajuan kualitas estetis karya peserta seiring modivikasi-modivikasi pedoman musabaqah yg tanpa henti dilakukan. Partisipasi lomba-lomba kaligrafi non-MTQ dan kemunculan lomba-lomba kaligrafi berskala Internasional turut menggembleng peserta dan meng up-grade kualitas karya MKQ. Tapi saya masih penasaran belum berhasil memasukkan Kaligrafi Digital melengkapi 4 golongan MKQ yg sudah ada. Ini sangat penting untuk mengikuti perkembangan  zaman. Mudah-mudahan bisa diperjuangkan dan ketemu di MTQ Nasional XXVIII tahun 2020 di Padang Sumatera barat.

Insyaa Allah


(DidinSirojuddinAR•Lemka)


GAMBAR:

Hakim-hakim MKQ-MTQ Nasional XIII tahun 1983: 

  • Prof. H.M. Salim Fachry, 
  • KH. M. Abd. Razaq Muhili, 
  • C. Israr, Drs. H. Bakhtiar Rajab,
  • Drs. Didin Sirojuddin AR juara I
  • Darami Yunus (dikepung kaligrafi karyanya).

Bila MTQ Nasional (XXVIII/2020) berlangsung di Sumatera Barat lagi... Bila umur panjang dan ditugaskan lagi... Bagi saya, ini akan jadi kenangan. Sebab, 35 tahun lalu (1983) di provinsi inilah saya untuk pertama kali jadi juri Musabaqah Khat Al-Qur'an (MKQ) yang waktu itu baru berupa sayembara. Agak grogi juga sih, waktu itu. Bagaimana tidak? Saya tidak punya pengalaman. Satu kali pun belum pernah jadi juri. Tiba-tiba harus duduk bersama dg para kiai dan hamalatul Qur'an. Mereka semua senior, banyak mantan juara tilawah. Sedangkan saya yg baru berumur 26 tahun hanya pernah mengikuti MKQ pertama di MTQ Nasional XII tahun1981 di Banda Aceh sebelumnya, saat masih kuliah semester VI. Itu pun langsung gagal jadi juara. Ya Allah, 2 tahun kemudian malah diangkat jadi jurinya di Tingkat Nasional di Padang.


Saya diajak oleh 2 guru saya Prof. H. M. Salim Fachry (penulis Al-Qur'an Pusaka Bung Karno) dan KH. M. Abd. Razaq Muhili (khattat perintis Indonesia, ayahnya KH. M. Faiz Abd. Razaq). Di pesawat, saya sampaikan keinginan membuat semacam sekolah  kaligrafi. Belum terbayangkan apa namanya. Sampai LEMKA lahir 2 tahun kemudian, 1985, di IAIN Jakarta dan Pesantren Kaligrafi Alqur'an Lemka di Sukabumi 13 tahun sesudahnya, 1998. 


Ustaz Salim dan Ustaz Razaq adalah Dewan Hakim pada MKQ Pertama di Banda Aceh. Dalam MTQ Nasional XIII/1983 di Padang, DH MKQnya adalah Prof. H.M. Salim Fachry, KH. M. Abd. Razaq Muhili, Drs. Didin Sirojuddin AR, H. Chazanatul Israr (C. Israr, penulis buku Sejarah Kesenian Islam), dan Drs. H.  Bakhtiar Rajab, kedua terakhir adalah dosen di IAIN Imam Bonjol, Padang. Paniteranya adalah anak muda energik, Ir. Bus Harmaedi. Sedangkan pemenang sayembaranya:  Darami Yunus (Batusangkar, adik seayah Prof. Dr. H. Mahmud Yunus), Wasi Abd. Razaq  (Bandung, adiknya KHM Faiz Abd. Razaq), dan Imron Isma'iel (Cirebon). 


Kecuali di MTQ Nasional XIV tahun 1985 di Pontianak dimana khat hanya didemonstrasikan di muka umum dan tidak dilombakan, saya terus jadi juri berturut-turut  sampai MTQ Nasional XXVII tahun 2018 di Medan.


Saya tidak puas dengan sayembara individual yang hanya menulis khat Naskhi dan Tsulus hitam putih.  Lalu bergerak cepat  turut merumuskan pengembangan lomba secara langsung yang diikuti wakil-wakil kafilah Provinsi menjadi Golongan Penulisan Buku (sekarang Golongan Naskah), Golongan Hiasan Mushaf, dan Golongan Dekorasi.  Masing-masing diikuti seorang peserta tanpa membedakan kelas putra dan putri, yg  mulai diberlakukan pada MTQ Nasional XV tahun 1988 di Bandar Lampung dan MTQ Nasional XVI tahun 1991 di Yogyakarta. 


Penampilan tiga golongan lomba ini dirasakan semakin mendorong minat para khattat untuk berpartisipasi dalam MKQ. Pada waktu bersamaan, geliat seni penulisan mushaf modern Indonesia mulai bangkit terutama sejak kehadiran Mushaf Istiqlal (1991-1995) mengiringi kegiatan dekorasi mesjid yg semakin marak, yg kedua-duanya dikerjakan oleh para peserta musabaqah.


Sungguh sangat menarik. Tidak semua usulan dengan mudah dikabulkan. Kelas putri yg berkali-kali diusulkan baru diterima di MTQ Nas XVII tahun 1994 di Pekanbaru, Riau. Berawal dari rasa kasihan melihat peserta putri selalu tersisih oleh putra sehingga kerap kalah sebelum tarung. 


Terasa "ngenes" juga melihat para pelukis dari kampus-kampus seni rupa tidak mampu "menerobos" MKQ yg dibarikade dengan kuatnya oleh para santri yg lebih menguasai kaligrafi murni tradisional. "Saya pengin ikut tapi ga sanggup dah," seperti dikeluhkan beberapa pelukis. Kesedihan ini  menginspirasi saya untuk memperjuangkan Golongan Kaligrafi Kontemporer masuk MTQ (walaupun sudah goal masuk POSPENAS terlebih dahulu). Terasa janggal. Saya pun  cemas:  mungkinkah "gaya aneh bin nyeleneh" ini bisa disandingkan dengan 3 golongan MKQ yang kalem? Ternyata para penentangnya juga banyak. Tidak semua kalangan, bahkan kalangan Dewan Hakim, setuju. Namun,  akhirnya, Golongan Kaligrafi Kontemporer diterima dan masuk MTQ Nasional XXV tahun 2014 di Batam, Kepulauan Riau, setelah melewati 12 tahun perjalanan yg berliku-liku.


Dalam rentang waktu tersebut, telah terjadi perubahan dan  kemajuan kualitas estetis karya peserta seiring modivikasi-modivikasi pedoman musabaqah yg tanpa henti dilakukan. Partisipasi lomba-lomba kaligrafi non-MTQ dan kemunculan lomba-lomba kaligrafi berskala Internasional turut menggembleng peserta dan meng up-grade kualitas karya MKQ. Tapi saya masih penasaran belum berhasil memasukkan Kaligrafi Digital melengkapi 4 golongan MKQ yg sudah ada. Ini sangat penting untuk mengikuti perkembangan  zaman. Mudah-mudahan bisa diperjuangkan dan ketemu di MTQ Nasional XXVIII tahun 2020 di Padang Sumatera barat.

Insyaa Allah


(DidinSirojuddinAR•Lemka)


GAMBAR:

Hakim-hakim MKQ-MTQ Nasional XIII tahun 1983: 

  • Prof. H.M. Salim Fachry, 
  • KH. M. Abd. Razaq Muhili, 
  • C. Israr, Drs. H. Bakhtiar Rajab,
  • Drs. Didin Sirojuddin AR juara I
  • Darami Yunus (dikepung kaligrafi karyanya).

Huruf Saka Masih Ada Dimana-mana

Huruf Saka Masih Ada Dimana-mana

AJI SAKA adalah pahlawan Tanah Djawa dalam legenda. Kalau  HURUF SAKA? Nah, yang ini sekedar akronim dari tulisan yang dibuat SAKenAnya, SAKAinget, SAKAdaek atau SAKArepe dewek, dan SAKAdarna  alias "asal jadi".

Masih banyak tulisan yang dibuat "kurang sempurna" di tengah tambah  maju dan semaraknya seni kaligrafi di Indonesia. Beberapa "karya tanggung" bisa dijumpai di berbagai media seperti mesjid, plang nama atau advertensi, bahkan lukisan.  Jadi, kekurangan atau kesalahannya apa?

  • Ada yang lebih mementingkan unsur artistik nya. Indah tapi salah.
  • Ada yang salah bacaannya sehingga merubah maknanya. Hanya karena kelebihan atau salah memosisikan TITIK,  الرحيم menjadi الرجيم atau ينـــبت menjadi يثــــبت , dll.
  • Ada yang kurang tepat qawaid khattiyah atau kaligrafi-nya, seumpama tercampurnya gaya Naskhi dengan Sulus atau tampilan Diwani dan Farisi yg kurang jelas.
  • Ada yang terkesan "maen tebak" dan "maen tembak"  dengan menulis hanya pakai kuas cina dan tidak menggunakan standar  kalam KHAT, sehingga kaligrafinya "tidak  jelas juntrungannya". Benar-benar jadi khat SAKA, sakenanya.


Kesalahan tulis  umumnya  disebabkan kurang hati-hati, tidak hapal maqra' ayat, atau penulisnya awam qawaid imlaiyah (gramatika Arab).    Kekeliruan khat karena kekurangmatangan menguasai kaligrafi dalam berbagai gayanya. Ada juga yang asal tunjuk dengan "memilih yang paling murah" atau "menyuruh bukan ahlinya". Beberapa mesjid megah berhiaskan dekorasi kaligrafi yang kurang indah bahkan banyak salah. Mesjid itu jadi timpang antara fisik dan arsitekturnya yang megah dengan dekorasi kaligrafinya yang corengcang coreng-moreng serba kurang.

Waaaah, ini tantangan. Pelajaran kaligrafi harus tambah digalakkan.  Ini juga kesempatan bagi para KHATTAT dan pelukis kaligrafi untuk lebih aktif berkarya dan merevisi karya-karya SAKenanyA.


(DidinSirojuddinAR•Lemka)

AJI SAKA adalah pahlawan Tanah Djawa dalam legenda. Kalau  HURUF SAKA? Nah, yang ini sekedar akronim dari tulisan yang dibuat SAKenAnya, SAKAinget, SAKAdaek atau SAKArepe dewek, dan SAKAdarna  alias "asal jadi".

Masih banyak tulisan yang dibuat "kurang sempurna" di tengah tambah  maju dan semaraknya seni kaligrafi di Indonesia. Beberapa "karya tanggung" bisa dijumpai di berbagai media seperti mesjid, plang nama atau advertensi, bahkan lukisan.  Jadi, kekurangan atau kesalahannya apa?

  • Ada yang lebih mementingkan unsur artistik nya. Indah tapi salah.
  • Ada yang salah bacaannya sehingga merubah maknanya. Hanya karena kelebihan atau salah memosisikan TITIK,  الرحيم menjadi الرجيم atau ينـــبت menjadi يثــــبت , dll.
  • Ada yang kurang tepat qawaid khattiyah atau kaligrafi-nya, seumpama tercampurnya gaya Naskhi dengan Sulus atau tampilan Diwani dan Farisi yg kurang jelas.
  • Ada yang terkesan "maen tebak" dan "maen tembak"  dengan menulis hanya pakai kuas cina dan tidak menggunakan standar  kalam KHAT, sehingga kaligrafinya "tidak  jelas juntrungannya". Benar-benar jadi khat SAKA, sakenanya.


Kesalahan tulis  umumnya  disebabkan kurang hati-hati, tidak hapal maqra' ayat, atau penulisnya awam qawaid imlaiyah (gramatika Arab).    Kekeliruan khat karena kekurangmatangan menguasai kaligrafi dalam berbagai gayanya. Ada juga yang asal tunjuk dengan "memilih yang paling murah" atau "menyuruh bukan ahlinya". Beberapa mesjid megah berhiaskan dekorasi kaligrafi yang kurang indah bahkan banyak salah. Mesjid itu jadi timpang antara fisik dan arsitekturnya yang megah dengan dekorasi kaligrafinya yang corengcang coreng-moreng serba kurang.

Waaaah, ini tantangan. Pelajaran kaligrafi harus tambah digalakkan.  Ini juga kesempatan bagi para KHATTAT dan pelukis kaligrafi untuk lebih aktif berkarya dan merevisi karya-karya SAKenanyA.


(DidinSirojuddinAR•Lemka)

adv/https://noqtahcalligraphy.indonetwork.co.id/|https://4.bp.blogspot.com/-AEfGbcDTw4U/W7wpmgMis4I/AAAAAAAAOxQ/W68LIDCdPjkgPwAreEEpZityVkMSZ_5yACLcBGAs/s1600/ahlinya%2Bseni%2Bgrc%2B160%2Bx%2B416.jpg

Sponsor

adv/https://noqtahcalligraphy.indonetwork.co.id/|https://4.bp.blogspot.com/-AEfGbcDTw4U/W7wpmgMis4I/AAAAAAAAOxQ/W68LIDCdPjkgPwAreEEpZityVkMSZ_5yACLcBGAs/s1600/ahlinya%2Bseni%2Bgrc%2B160%2Bx%2B416.jpg
adv/https://noqtahcalligraphy.indonetwork.co.id/products/dekorasi-kaligrafi-33857|https://2.bp.blogspot.com/-Xr9d8K7JKFs/Wwoo2oBmXPI/AAAAAAAAMLY/92LdoL1KZWAr2V1UAUXzLIh_g3Cf6_UPACLcBGAs/s1600/spesialis%2Bkaligrafi.png

Random Posts

randomposts

Like Us

fb/https://www.facebook.com/robiansindonesia