Kaligrafi

Catatan Kenangan : Bila MTQ Nasional Di Sumatera Barat Lagi

Bila MTQ Nasional (XXVIII/2020) berlangsung di Sumatera Barat lagi... Bila umur panjang dan ditugaskan lagi... Bagi saya, ini akan jadi kenangan. Sebab, 35 tahun lalu (1983) di provinsi inilah saya untuk pertama kali jadi juri Musabaqah Khat Al-Qur'an (MKQ) yang waktu itu baru berupa sayembara. Agak grogi juga sih, waktu itu. Bagaimana tidak? Saya tidak punya pengalaman. Satu kali pun belum pernah jadi juri. Tiba-tiba harus duduk bersama dg para kiai dan hamalatul Qur'an. Mereka semua senior, banyak mantan juara tilawah. Sedangkan saya yg baru berumur 26 tahun hanya pernah mengikuti MKQ pertama di MTQ Nasional XII tahun1981 di Banda Aceh sebelumnya, saat masih kuliah semester VI. Itu pun langsung gagal jadi juara. Ya Allah, 2 tahun kemudian malah diangkat jadi jurinya di Tingkat Nasional di Padang.


Saya diajak oleh 2 guru saya Prof. H. M. Salim Fachry (penulis Al-Qur'an Pusaka Bung Karno) dan KH. M. Abd. Razaq Muhili (khattat perintis Indonesia, ayahnya KH. M. Faiz Abd. Razaq). Di pesawat, saya sampaikan keinginan membuat semacam sekolah  kaligrafi. Belum terbayangkan apa namanya. Sampai LEMKA lahir 2 tahun kemudian, 1985, di IAIN Jakarta dan Pesantren Kaligrafi Alqur'an Lemka di Sukabumi 13 tahun sesudahnya, 1998. 


Ustaz Salim dan Ustaz Razaq adalah Dewan Hakim pada MKQ Pertama di Banda Aceh. Dalam MTQ Nasional XIII/1983 di Padang, DH MKQnya adalah Prof. H.M. Salim Fachry, KH. M. Abd. Razaq Muhili, Drs. Didin Sirojuddin AR, H. Chazanatul Israr (C. Israr, penulis buku Sejarah Kesenian Islam), dan Drs. H.  Bakhtiar Rajab, kedua terakhir adalah dosen di IAIN Imam Bonjol, Padang. Paniteranya adalah anak muda energik, Ir. Bus Harmaedi. Sedangkan pemenang sayembaranya:  Darami Yunus (Batusangkar, adik seayah Prof. Dr. H. Mahmud Yunus), Wasi Abd. Razaq  (Bandung, adiknya KHM Faiz Abd. Razaq), dan Imron Isma'iel (Cirebon). 


Kecuali di MTQ Nasional XIV tahun 1985 di Pontianak dimana khat hanya didemonstrasikan di muka umum dan tidak dilombakan, saya terus jadi juri berturut-turut  sampai MTQ Nasional XXVII tahun 2018 di Medan.


Saya tidak puas dengan sayembara individual yang hanya menulis khat Naskhi dan Tsulus hitam putih.  Lalu bergerak cepat  turut merumuskan pengembangan lomba secara langsung yang diikuti wakil-wakil kafilah Provinsi menjadi Golongan Penulisan Buku (sekarang Golongan Naskah), Golongan Hiasan Mushaf, dan Golongan Dekorasi.  Masing-masing diikuti seorang peserta tanpa membedakan kelas putra dan putri, yg  mulai diberlakukan pada MTQ Nasional XV tahun 1988 di Bandar Lampung dan MTQ Nasional XVI tahun 1991 di Yogyakarta. 


Penampilan tiga golongan lomba ini dirasakan semakin mendorong minat para khattat untuk berpartisipasi dalam MKQ. Pada waktu bersamaan, geliat seni penulisan mushaf modern Indonesia mulai bangkit terutama sejak kehadiran Mushaf Istiqlal (1991-1995) mengiringi kegiatan dekorasi mesjid yg semakin marak, yg kedua-duanya dikerjakan oleh para peserta musabaqah.


Sungguh sangat menarik. Tidak semua usulan dengan mudah dikabulkan. Kelas putri yg berkali-kali diusulkan baru diterima di MTQ Nas XVII tahun 1994 di Pekanbaru, Riau. Berawal dari rasa kasihan melihat peserta putri selalu tersisih oleh putra sehingga kerap kalah sebelum tarung. 


Terasa "ngenes" juga melihat para pelukis dari kampus-kampus seni rupa tidak mampu "menerobos" MKQ yg dibarikade dengan kuatnya oleh para santri yg lebih menguasai kaligrafi murni tradisional. "Saya pengin ikut tapi ga sanggup dah," seperti dikeluhkan beberapa pelukis. Kesedihan ini  menginspirasi saya untuk memperjuangkan Golongan Kaligrafi Kontemporer masuk MTQ (walaupun sudah goal masuk POSPENAS terlebih dahulu). Terasa janggal. Saya pun  cemas:  mungkinkah "gaya aneh bin nyeleneh" ini bisa disandingkan dengan 3 golongan MKQ yang kalem? Ternyata para penentangnya juga banyak. Tidak semua kalangan, bahkan kalangan Dewan Hakim, setuju. Namun,  akhirnya, Golongan Kaligrafi Kontemporer diterima dan masuk MTQ Nasional XXV tahun 2014 di Batam, Kepulauan Riau, setelah melewati 12 tahun perjalanan yg berliku-liku.


Dalam rentang waktu tersebut, telah terjadi perubahan dan  kemajuan kualitas estetis karya peserta seiring modivikasi-modivikasi pedoman musabaqah yg tanpa henti dilakukan. Partisipasi lomba-lomba kaligrafi non-MTQ dan kemunculan lomba-lomba kaligrafi berskala Internasional turut menggembleng peserta dan meng up-grade kualitas karya MKQ. Tapi saya masih penasaran belum berhasil memasukkan Kaligrafi Digital melengkapi 4 golongan MKQ yg sudah ada. Ini sangat penting untuk mengikuti perkembangan  zaman. Mudah-mudahan bisa diperjuangkan dan ketemu di MTQ Nasional XXVIII tahun 2020 di Padang Sumatera barat.

Insyaa Allah


(DidinSirojuddinAR•Lemka)


GAMBAR:

Hakim-hakim MKQ-MTQ Nasional XIII tahun 1983: 

  • Prof. H.M. Salim Fachry, 
  • KH. M. Abd. Razaq Muhili, 
  • C. Israr, Drs. H. Bakhtiar Rajab,
  • Drs. Didin Sirojuddin AR juara I
  • Darami Yunus (dikepung kaligrafi karyanya).

adv/https://noqtahcalligraphy.indonetwork.co.id/products/dekorasi-kaligrafi-33857|https://2.bp.blogspot.com/-Xr9d8K7JKFs/Wwoo2oBmXPI/AAAAAAAAMLY/92LdoL1KZWAr2V1UAUXzLIh_g3Cf6_UPACLcBGAs/s1600/spesialis%2Bkaligrafi.png

Random Posts

randomposts

Like Us

fb/https://www.facebook.com/robiansindonesia